Monday, December 31, 2018

Cerpen: Lukisan Senyum Marji

Namanya Marji. Hadir di dunia tanpa ayah dan ditinggal sosok ibu. Siapa ayah? Hanya ibulah yang tahu.  Sudah rahasia umum jika ibunya dulu adalah wanita nakal yang bisa dipakai siapa saja. Asal punya uang, tukang becak, penjual bakso, supir truk atau pejabat kelas teri. Entah itu di kamar hotel pinggiran atau sekadar tidur di semak-semak.

Sunday, December 30, 2018

Puisi: Mereka Bilang Dia Pelakor


Hari berganti seperti itu adanya
Mentari pagi di timur
Raungan anak di kamar mandi
Dan sarapan yang dimasak terburu-buru

Friday, December 14, 2018

Hapus Ragumu

Sayang
Adakah cinta masih menggema di kalbumu?
Suam-suam kudengar suaramu
Berteriak meragu
Sebaris katamu terlihat jelas
Jangan ada itu lagi

Thursday, May 24, 2018

Ternyata Jatuh Cinta Itu Tidak Terjun Bebas


Obrolan dengan Melati siang itu membuat saya semakin bimbang. Melupakan dia yang kini dengan Kak Reza—walau gantung—atau tetap mendekati tanpa peduli hubungan mereka.

Monday, May 21, 2018

Cinta yang Tak Kunjung Jatuh!


Tentang cinta, nasib saya memang tak pernah ada bagus-bagusnya. Walau tak sampai pelaminan, minimal cita-cita saya adalah didoakan teman atau kenalan, “Semoga kalian langgeng sampai pelaminan ya.” Hanya itu! Tapi kenapa sampai saat ini tidak bisa?

Friday, April 13, 2018

Gebetan dan Cinta yang Tak Mau Disalahkan

Menjadi seorang lelaki memang sudah takdirnya untuk ‘mengejar’ atau lebih tepatnya memperjuangkan. Walaupun kurang paham dengan prinsip ini tapi mau tidak mau sebagai lelaki saya harus ikuti. Daripada dicap perjaka tua kan? Eh, tapi adakah yang namanya perjaka tua?

Saturday, March 31, 2018

Ijinkan Aku Tuk

Menjadi karang di tepi pantai
Menanti debur ombak
Dan angin sepoi

Sunday, January 14, 2018

[Review Novel] The Host

Kupeamkan mata, dan hanya menemukan sedikit perbedaan antara kelopak mataku dan langit tak berbulan itu. Lalu ketidaksadaran menghanyutkanku dengan kemudahan tak terduga.”----Hlm. 123