Monday, December 31, 2018

Cerpen: Lukisan Senyum Marji

Namanya Marji. Hadir di dunia tanpa ayah dan ditinggal sosok ibu. Siapa ayah? Hanya ibulah yang tahu.  Sudah rahasia umum jika ibunya dulu adalah wanita nakal yang bisa dipakai siapa saja. Asal punya uang, tukang becak, penjual bakso, supir truk atau pejabat kelas teri. Entah itu di kamar hotel pinggiran atau sekadar tidur di semak-semak.


Sayang, ibu sudah pergi ke alam lain. Lekas setelah ia lepas menetek. Bahkan saat raut ibunya saja belum membekas di dalam isi kepala. Kata orang karena keracunan tetapi ada juga yang bilang karena penyakit menular tertentu yang berkaitan dengan pekerjaan sebagai PSK.

Sejak lahir sampai berusia dua puluh tahun, ia tak pernah mengenal abjad dan buku. Semua orang di sekitarnya sudah tahu itu, dari anak-anak sampai kepala kampung. Tentu saja gadis-gadis yang sering membuat dadanya bergetar juga tahu.

Semua orang akan menertawakannya. Bagi mereka itu hiburan paling menarik. Kekonyolan yang wajib ditertawakan dan diwartakan ke pejuru dunia.

Hidupnya adalah malapetaka buat manusia-manusia lain dan dirinya. Tidak terkecuali Marta, wanita yang merawat sejak kecil. Di hadapan Marta ia adalah seorang anak manusia, tetapi kadang ia tak lebih dari seekor anjing liar yang minta makan.

Arang adalah penemuan paling berharga buat Marji. Dari arang ia lukis senyum. Goresan-goresan yang ia bikin masih belum tegas. Tetapi gurat senyum itu terlihat jelas.

Maka mulailah ia beranikan diri melukis di mana saja. Di dinding rumah-rumah, di atas trotoar, tepian kali dan di atas batu. Pada daun-daun kering, bungkus-bungkus permen dan puntung-puntung rokok tak ia biarkan tanpa lukisan senyum. Senyum itu adalah senyum Marji. Semua orang akan mengenal sebagai senyum Marji.

Sudah sering ia dicaci dan ditampar karena lukisan senyum itu. Bagi mereka yang tembok-temboknya dikotori lukisan senyum, Marji adalah perusak. Bagi mereka yang menonton Marji melukis, dia gila.  Tetapi baginya itu kenikmatan.

“Kenapa kau melukis senyum, Kak? Dan kenapa kau terus menunduk?” tanya seorang anak kecil suatu ketika di sudut pasar. Saat ia sedang asyik melukis botol mineral yang dilempar seseorang dari mobil yang lewat.

Marji menghentikan aktivitasnya lalu memperhatikan bocah itu beberapa saat. Mata bocah itu teduh, mata yang jarang ia lihat. Belum sempat ia menjawab pertanyaan itu, ibu sang bocah datang dan menghardik, “Jangan dekat-dekat si Marji lagi!”

“Kenapa, Ma?”

“Dia itu sampah. Kamu sekolah yang benar biar tidak gila kayak dia.”

Ibu dan anak itu menghilang dari pandangan. Marji tersenyum lalu melanjutkan pekerjaannya sambil bergumam, “Tertawa memang terlihat bahagia, tetapi senyum adalah pancaran jiwa yang bahagia. Lalu memunduk? Aku takut menatap langit.”

@@@

Marji terbangun mendadak saat mendengar dengung percakapan orang-orang di rumahnya. Rumah Marta tepatnya. Ia keluar dari kamar lalu memperhatikan sekeliling. Pagi ini tidak seperti biasanya.

Tepat di tengah ruangan terbujur Marta. Beberapa orang duduk dengan mata sembab berhimpitan di rumah mungil tempat ia tinggal. Marji mengenali mereka sebagai kerabat dekat Marta.

Ia dekati Marta yang tertidur. Tak ada yang menggubris seakan dia tak ada. Langka kakinya malu-malu menginjak lantai. Ia sentuh kening wanita itu. Dingin. Ia letakan jari di hidung. Tenang. Tak ada embusan napas di sana.

Lama ia berdiri di sisi Marta menyaksikan semua perlakuan luar biasa manusia pada jasad yang kaku. Mereka menangis juga mendaraskan doa. Kerabat-kerabat yang lama tak menemuinya datang berkumpul.

Tubuh Marta kemudian digotong dalam keranda  berhias kain penuh lukisan. Orang-orang disekelilingnya terus mendaraskan doa tanpa henti sampai di liang pemakaman.

Marji berdiri di dekat kubur yang baru saja ditutupi tanah masih dengan perasaan terkagum-kagum. Tak ada satu tetes air mata yang jatuh darinya. Semua orang tahu itu dan mereka tak peduli. Ia hanya sampah.

Satu per satu orang pergi, tinggal ia sendiri di sini. Martanya yang merawat ia sejak kecil kini telah mereka timbun. Marta kini hanya gundukan tanah yang ditandai satu tiang pancang bertulis namanya. Orang-orang menyebut nisan.

Ia melangka mundur lalu duduk di bawah pohon beringin besar di dekat pemakaman itu. Ia tatap satu persatu makam. Indah. Beberapa hanya berupa timbunan tanah dengan nisan sederhana. Namun sebagian lain dibeton dan dihias secantik mungkin.

Betapa indahnya kematian, kau cukup tidur lalu ditonton banyak orang. Dikenakan pakaian terbaik yang mungkin saja tak pernah kau sentuh. Tubuhmu akan digotong bak seorang raja. Setelah itu hidupmu akan ada di atas awan, seperti penjelasan Marta setiap menceritakan ibunya. 

Cepat pikirannya berlari ke kematian-kematian yang pernah ia lihat dalam hidupnya. Preman pasar yang tewas digorok di pinggir jalan, pelacur yang gantung diri dan Marta yang baru saja meninggal semalam karena sakit. Semua diperlakukan dengan cara yang sama. Tidak peduli berapa orang yang sudah ditodong sang preman, tidak peduli kepada berapa lelaki sang pelacur menyerahkan selangkangannya. Mereka diperlakukan sama saat meninggal.  Sama indahnya.

Apakah tidak membosankan kau terus terbaring di dalam pengap kuburan? Apakah benar mereka pergi ke awan? Pertanyaan demi pertanyaan tumpah di kepalanya. Ia tak akan bertanya pada siapapun. Biar ia cari sendiri jawabannya.

Cepat-cepat ia cari arang lalu melukis senyum. Kali ini di batu nisan Marta. Hanya satu tetapi terlihat jelas. Lalu ia tinggalkan makam itu dengan rasa bangga dan duduk lagi di bawah pohon beringin.

@@@

Kampung itu heboh, Marji sang pelukis senyum telah pergi. Mati gantung diri di pohon beringin pemakaman. Jasadnya baru ditemukan dua hari setelah pemakaman Marta.

Sepanjang hidupnya ia hanya diam. Tak pernah bicara. Menunduk tak sanggup menatap kehidupan. Kini dia telah pergi, mencari senyumnya sendiri. Tanpa perlu melukis.

No comments: