Sunday, December 30, 2018
Puisi: Mereka Bilang Dia Pelakor
Hari berganti seperti itu adanya
Mentari pagi di timur
Raungan anak di kamar mandi
Dan sarapan yang dimasak terburu-buru
Cinta?
Kini jadi pigura di tembok ruang tamu
Aneh, kenapa tak bisa bibirmu melukis senyum itu lagi?
Entah ...
Kata orang ini periode normal
Tapi ini dingin; dekat yang menjauh
Pada akhirnya menjadi rutinitas
Kecup kening
Senyum sumringah
Sampai tangis dan tumpukan beling
Sampai pada titik itu
Mereka bilang dia datang
Ah, terlalu naif jika "dia datang"
Dia tak selalu subjek
Akulah subjek tak kasat mata
Ada
Hadir
Dan (sering) tak dilihat
Gelembung pun pecah
Dunia gelap
Samar kulihat tumpukan jari telunjuk di dinding
Mengarah padanya
Hanya padanya
Ah, ada tiga atau mungkin empat
Kurasa anomali
Menunjuk padaku
Jari mereka cacat dengan telunjuk tak lurus
Ada senyum dibalik telunjuk-telunjuk itu
Lembut
Namun bertaring
Semula ia hanya berbisik
Aroma darah menguap dari sana
Kemudian ia juga pecah
Marah
Keluar cacian bersama semburan api
Tapi ...
Mengapa bukan pada kami?
Bukan padaku?
Hanya dia ...
Bisik mereka, "Dia baru saja mencuri! Dia merebut kepunyaan yang lain."
Gamang
Di wajahnya yang tak merah lagi
Ia telah menjadi lebih dingin
Membeku
Senyumnya
Menggetil jiwaku
Indonesia, 30 Desember 2018
Labels:
Puisi
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment