Sunday, January 13, 2019

Cerpen: Surat Cinta untuk Lena


Kelas baru usai kala Pedo masuk ke dalam kelas menemui Lena dengan penuh kegugupan. Lena yang sedari tadi sibuk dengan alat tulis keheranan melihat tingkah Pedo di depan meja.


“Pedo?” tanyanya gusar melihat Pedo. “Kamu kenapa?”

Pedo masih saja terdiam, dari gurat wajah kelihatan kalau sedang berusaha mengontrol kegamangan. Beberapa kali ia hembuskan napas dan berusaha mengontrol detak jantung yang sedara tadi tak berirama. Apalagi semenjak melihat Lena.

“Ini ... surat kecil buat kamu,” Pedo menyodorkan sebuah amplop putih yang disebutnya surat itu pada Lena. “Gak usah baca di sini.”

Lena yang sedari tadi diselimuti rasa heran mengambil surat itu lalu memasukkan dalam tas. Tanpa berkata apa-apa langsung pergi meninggalkan Pedo. Beberapa teman kelas Lena yang masih ada dalam kelas memeperhatikan Pedo yang resah. Perubahan dari kegugupan menjadi keresahan terjadi dalam tempo yang sangat singkat.

“Hm ... Nekat juga ni anak ama Lena,” bisik salah satu teman kelas Lena saat Pedo keluar dari ruang kelas.

“Mungkin dia tertarik masuk dalam list penolakan Lena,” timpal yang lain sambil terkikih.

Pedo mendengar semua percakapan sialan mereka itu namun ia sendiri pura-pura tak mendengar.  Di kepalanya saat ini adalah bagaimana reaksi Lena saat membuka dan membaca surat.

Andai saja dia nekat menembak Lena seperti teman-teman yang lain di depan umum. Namun apa jadinya jika Lena menolak? Lebih buruk lagi jika ditampar di depan umum. Mau ditaruh di mana mukanya?

“Woy ... kok lesu gitu? Kamu udah nembak si Lena belum?” Tadon yang tiba-tiba datang membuyarkan lamunan.

“Udah, seperti yang kamu bilang,” balas Pedo dengan suara lemah. “Tapi responnya kok datar gitu ya, Bro?”

“Sebenarnya itu ada dua kemungkianan. Kemungkinan pertama adalah Lena udah punya pacar yang kita semua gak tahu.” 

“Terus yang kedua apa?” tanya Pedo dengan nada kesal. Ia sudah hapal betul kekonyolan temannya yang bertingkah bak filsuf ini.

“Dia cewek jadi-jadian” Tadon terkekeh sambil menghindari kepalan Pedo yang mengarah ke lengannya.

**
“Lena, makan dulu. Kamu gak sarapan loh tadi pagi,” suara Bu Narti dari ruang makan. Saat melihat anaknya keloyoran langsung ke kamar.

“Tadi udah jajan di sekolah, Ma. Masih kenyang.”
Senyum di bibirnya pecah seketika. Saat pintu kamar ia tutup. Cepat-cepat ia sobek amplop pemberian Pedo dan membaca isi surat. 

'Dek Lena yang baik hati ...

Maaf jika kehadiran surat kecil ini cukup menganggu. Semoga saja surat kecil ini bisa mengobati kegugupan saya yang selama ini saya simpan untuk menyatakan perasaan padamu.

Saya memang bukan pria romantis. Bisa kamu lihat dalam surat ini, tak ada puisi  atau sekadar kata-kata yang bermekaran Entah, kata-kataku mati di depanmu. Juga depan bayanganmu.

Tanpa perlu berpanjang kata, lewat carik kertas sederhana ini saya hanya mau sampaikan rasa suka padamu, Dek. Maukah jadi pacarku? Terserahlah padamu apa perlu membalas atau tidak surat kecilku ini. Setidaknya menyatakan isi hatiku saja saya sudah cukup puas.

Akhir kata, tak ada gading yang tak retak. Begitu juga diri ini yang mungkin tak sempurna di matamu. Banyak retaknya.

Salam hormat
Pedo'

Kertas kuning itu ia genggam erat lalu didekap ke dada. Ia baca kembali kata demi kata yang tertulis dengan tinta biru, jangan-jangan ada kata yang terlewat dari sana. Lena bisa merasakan getaran jiwa Pedo yang tak bisa dikontrol.
Ternyata dibalik sosok Pedo yang terlihat cool, mantan ketua OSIS, masih juga gamang tuk menyatakan cinta ada seorang wanita.

“Dasar cupu!” gerutunya pelan sambil tersenyum.
Di meja belajar ia coba menulis beberapa patah kata untuk membalas surat itu. Sebaris dua baris kata coba ia rangkai. Namun terhenti. Begitu juga dengan lembaran-lembaran berikutnya, hanya sampai dua baris pertama. Ruang kosa katanya runtuh.

Apakah ia gugup dan tak bisa membalas surat cinta ini? Jantung berdetak tak berirama. Seperti ada kupu-kupu yang terbang di dekat perut.  

**

Hari demi hari terlewati semenjak peristiwa itu. Kabar angin yang semula berhembus pelan, kini menjadi tornado. Seluru isi sekolah sudah tahu Pedo mengirim surat cinta pada Lena dan tak kunjung dibalas.

Buat cowok-cowok pengagum Lena, mereka berharap tak ada balasan. Penolakan sekalipun. Biar Pedo ikut merasakan apa yang mereka rasakan. Tetapi buat cewek yang naksir dengan Pedo muncul pertanyaan, semenarik apakah cewek cupu semacam Lena itu di mata Pedo?

Seminggu sudah lewat dan tanda-tanda surat itu akan dibalas tak muncul. Banyak juga yang mulai datang mendekati Lena untuk menanyakan kabar tersebut dan kelanjutan kisah mereka. Namun ia selalu enggan untuk menjawab. Biasanya hanya bergeming dan mengalihkan pembicaraan.

Kisah cinta keduanya seperti diselimuti kabut tebal.  Tak semua orang tahu. Mungkin hanya Tuhan dan Lena yang tahu semua.

**

Sudah seminggu ini Lena berubah. Ibunya, asisten rumah tangga, tukang kebun bahkan penjual bakso langganannya juga tahu ia berubah. Lena lebih ceria seminggu terakhir meski kadang ia seperti kebingungan. 

Ia lebih rajin berolahraga sebelum ke sekolah. Mulai memasak makanan sendiri—suatu pekerjaan yang jarang sekali ia lakukan. Bahkan sesekali ia lakukan semua itu sembari bernyanyi.

Mereka semua hanya bisa melihat Lena dengan keheranan. Tak ada satupun di antara mereka yang berani bertanya. Termasuk ibunya sendiri.

**

Hujan hari itu lebat. Pedo dan Tadon sedang merokok di kios belakang sekolah sambil menunggu hujan reda. Hampir sebungkus rokok mereka habiskan sedari pulang sekolah, tetapi belum juga ada tanda-tanda hujan akan reda.

“Bro, kamu tahu kenapa hari ini mendadak hujan?” Tadon bertanya sambil menyemburkan asap rokok.

“Ya, karena udah mau masuk musim penghujan.” Pedo menjawab seolah tak peduli.

“Kota ini sedang meratap, Bro.” Tadon mengisap pelan rokok di bibirnya. “Cinta seorang mantan ketua OSIS digantung oleh seorang adik kelas cupu berkaca mata tebal. Kota ini mengutuk calon Romeo dan Juliet ...”

Belum juga selesai bicara, datang seorang anak kecil membawa sebuah bingkisan. Anak itu tukang ojek payung.

“Kak Pedo, ini titipan buat Kakak.” Tangan anak kecil itu gemetar kedinginan saat memberi.

Pedo hanya menangguk lalu mengambil bingkisan kecil itu. Hanya sebuah apel yang dibungkus plastik. Ada selembar kertas yang terselip di sana. Cepat ia buka lipatan itu.

'Kak, kutrima cintamu. Aku mau jadi pacarmu.
Lena'

"Yes!" teriak Pedo cepat sambil meninju ke udara.

"Ada apa sih?" Tadon terheran-heran melihat tingkah temannya.

"Udah gak jomlo lagi, Bro!"

Bocah yang sedari tadi memperhatikan tingkah konyol kedua sahabat itu hanya menggeleng-geleng kepala. Kemudian pergi meninggalkan mereka yang sedang menari bak kesurupan.

No comments: