Sedari pagi kamu tak pernah tersenyum. Setiap perkataanku selalu kau jawab singkat. Bahkan lebih sering mengangguk atau menggelengkan kepala. Dari sorot matamu, kutahu kamu sedang kecewa denganku.
Meski dengan wajah cemberut, kamu masih mau menyiapkan air hangat untukku. Tak lupa beberapa potong roti dan telur mata sapi seperti biasa.
Kopi yang kamu hidangkan untukku pagi ini masih juga enak. Seperti hari-hari yang lalu.
Beberapa tahun hidup denganmu, aku sudah terbiasa menghadapi kondisi yang dingin seperti ini. Hanya satu cara paling bijak yang bisa kulakukan, diam dan mengikuti apa katamu.
Bukan pasrah, tetapi lebih pas disebut menahan gejolak untuk bertengkar denganmu. Aku benci air mata. Tak mau cairan itu membasahi pipimu.
Cara ini sudah kulakukan sejak lama. Tepat setelah tanganku dengan sengaja menamparmu. Kamu menangis dan pergi dari rumah.
Bercucuran air mata, kamu pergi entah ke mana kala itu. Tak pernah kutanyakan sampai saat ini. Meninggalkanku dengan penyesalan dan mengutuk diri.
Sejak saat itu aku lebih memilih diam atau tidur untuk menahan emosiku sendiri Cukup ampuh menghindari pertengkaran.
Semua itu bukti bahwa kita masih manusia. Memiliki ego yang melekat pada pribadi masing-masing. Romeo dan Juliet sekalipun pasti punya kemelut jika mereka berumah tangga.
Kukecup keningmu saat hendak meninggalkan rumah. Kamu hanya tersenyum sekilas padaku. Sebuah senyuman yang sangat dipaksa. Seolah kamu sedang berkata: 'Ni, aku lagi senyum. Udah puas?'
Kutinggalkan rumah mungil kita saat kamu masih berdiri di beranda. Daster lusuh yang melekat di tubuhmu tak bisa menipuku. Kamu masih terlihat cantik. Tak ada beda dengan kamu saat pertama kali kukenal.
Selama di perjalanan dan kantor, sengaja kumatikan ponselku. Tak mau kamu ganggu.
--o0o--
"Kamu jahat!" katamu sambil tersenyum dan memelukku. Dandananmu sore itu begitu elegan. Ya, elegan lebih tepat jika kamu bosan mendengarku menyebut indah.
Aku baru saja tiba di rumah sore itu. Langit kota kita dihias taburan warna jingga dan merah.
"Kenapa? Perasaan tadi pagi ada yang lagi ngambek deh," kucoba menggoda dirimu. Aroma parfummu membelai paru-paruku.
"Pokoknya kamu udah bikin aku kesel!"
"Loh? Kesel kok masih meluk-meluk? Kesel tu diam-diam kayak tadi pagi. Bukan senyum-senyum gini."
Kamu mengarahkanku ke ruang tamu kita. Di atas meja ada sebuah kotak kecil dibungkus kertas kado yang sudah sobek di beberapa sisinya.
"Itu ulahmu kan?"
Kupeluk dan mengecup keningmu. "Happy birthday, Sayang. Maaf ya, kadonya hanya itu."
Kamu memelukku erat. Tersenyum begitu indah meski butir air pecah di sudut mata.
Kado itu hanya tas berwarna merah yang kamu idamkan selama ini. Kubeli beberapa hari lalu dan tersimpan di loker kantorku. Sengaja baru kukirim ke rumah menggunakan kurir dari kantor siang tadi.
Kejutan sederhana untukmu. Mengobati rasa bersalahku. Tak mengucapkan selamat ulang tahun. Padahal kamu menantikan itu sejak semalam.
Tersenyumlah sayang, karena keindahannya tak bisa dimakan usia.
No comments:
Post a Comment