Saturday, January 19, 2019

Cerpen: Pelangi Senja Kita

Bulir air jatuh malu-malu sore itu menemani kita yang sedang duduk berdua. Dua cangkir kopi buatanmu dan sepotong kue keju kesukaanmu tersaji di atas meja.


Hari ini aku pulang lebih lama dari biasa. Hujan lebat dan genangan air membuat jalanan macet.

Seperti hari-hari lalu, kita bercerita tentang tulisan-tulisan di blogmu yang mau kamu bukukan. Sesekali tertawa mendengar komentar pembaca-pembacamu yang lucu. Termasuk keusilan mereka mencari tahu siapa dibalik nama penamu.

Bertukar cerita tentang buku, tulisanmu, atau tentang film, seakan tak punya akhir. Kita selalu nyambung dan akur dengan topik-topik itu.

Berbeda dengan binatang peliharaan atau musik. Kamu selalu mengomel saat kuputar musik kesukaanku. Katamu suara vokalis band rock itu kacau dan tak ada unsur seni di dalamnya.

"Yang, lihat." Tanganmu menunjuk ke langit di depan kita. "Ada pelangi."

Tanpa menunggu jawaban, kamu masuk ke dalam rumah mengambil ponselmu. Mencoba sebisa mungkin mengabadikan momen itu dengan kamera ponsel.

Sewaktu kecil di kampung, kami selalu dilarang menunjukan jari ke pelangi. Katanya nanti jari telunjuk kami tak bisa ditekuk lagi. Sayang, baru kusadari setelah dewasa kalau itu hanya mitos.

"Sayang, kamu kok cuek amat ma pelangi?" Kamu meletakan ponsel di atas meja lalu duduk.

"Ya, trus harus ngapain?" Kutatap matamu lekat. "Aku gak suka pelangi."

"Aneh,"  jawabmu lirih kemudian meneguk kopi.

Ya, aku memang aneh karena tak menyukai pelangi. Hadir hanya saat hujan akan redah dan mentari baru menujukan keperkasaannya kembali.

Aku tak mau menjadi sesuatu yang hadir sesaat untuk kau abadikan. Jika Tuhan mengizinkan, aku mau abadi bersamamu. Saat hujan, kemarau atau pancaroba.

"Yang?" Kamu melambaikan tangan di depan mataku.

"Ya."

"Huft ... mikirin apa sih sampai melotot gitu? Kerasukan setan pelangi?"

Aku menggelengkan kepala dan kita tertawa.

No comments: