Tentang cinta, nasib saya memang tak pernah ada bagus-bagusnya. Walau tak sampai pelaminan, minimal cita-cita saya adalah didoakan teman atau kenalan, “Semoga kalian langgeng sampai pelaminan ya.” Hanya itu! Tapi kenapa sampai saat ini tidak bisa?
Segala cara sudah saya coba, mulai dari membiarkan janggut tumbuh biar brewokan dan (mungkin) terlihat cool sampai coba meng-gondrong-kan rambut. Ketika cewek-cewek menggemari Ed Sharen yang rambutnya tidak disisir saya juga (sengaja) tidak sisiran. Dengar teman-teman cewek bilang suka sama cowok pendiam, saya mulai jarang bicara. Mencoba tenang dan menjawab setiap pertanyaan sesingkat mungkin (kalo bisa ngangguk, ya ngangguk saja).
TAPI TAK SATUPUN YANG “MENEMPEL”!
Tapi setelah dipikir-pikir, mungkin ini salah satu cara Tuhan menyayangi saya. Mungkin Dia tidak mau saya tersakiti (nanti) kalo udah jadian. Atau paling tidak dia tidak akan membiarkan saya jatuh cinta pada waktu yang tidak tepat. Soal cinta Tuhan memang punya cara sendiri.
Saya sering membayangkan cinta sebagai kubangan lumpur yang terus “menyedot” saat kita jatuh. Kenapa dibilang jatuh? Karena kita tidak ada niat untuk terjun ke dalamnya. Kita terseret tanpa kita rencanakan. Mungkin seperti itu definisi cinta (wajarlah saya kan masih magang di dunia percintaan).
Setelah tragedi Mawar yang ternyata telah menikah, saya semakin sulit menemukan pengganti (gebetan) yang lain. Sampai akhirnya ketemu Melati, wanita keturunan Batak yang sudah lama menetap di Makassar. Berbeda dengan Mawar, Melati punya rambut yang ikal tapi kulitnya putih mulus bagai kertas HVS.
Sejak jadi mahasiswa baru, saya dan Melati memang sudah saling kenal. Aktif di beberapa organisasi kemahasiswaan dan sempat menjadi pengurus juga. Tapi akhir-akhir ini dia terlihat sedikit lebih cantik dari biasanya. Tatapannya selalu membuat dada ini bergetar. Apakah ini yang namanya cinta?
Sikapnya yang lembut di tiap pertemuan membuat hati ini makin yakin kalo dia adalah orang yang pas. Semua sosial media yang dia punya mulai saya amati. Yes! Tidak ada foto cowok di sana. Hanya muka dengan senyum manisnya saja yang selalu memenuhi feed Instagramnya. Setiap fotonya lewat di timeline saya ‘love’ dan tiap instastorynya saya balas. Tidak lupa Facebook story sampai WhatsApp Story, semua dilihat dan dipantau. Tiap typo saya perbaiki.
Percakapan yang mulanya hanya hahahihi akhirnya mengalir begitu lancar. Entah saya yang terlalu GR atau memang begitu kenyataannya, dia lebih sering senyum dari biasanya.
Sampai suatu siang kami janjian untuk ketemu di kantin kampus. Kebetulan tidak ada kuliah dan bisalah dippakai buat ‘latihan’ kencan sebelum mengutarakan isi hati yang sudah mulai tumpah ruah ini. Saya sengaja pilih duduk di sudut kantin dekat dengan jendela, berharap angin sepoi menerpah pipinya dan membelai rambutnya yang ikal.
“Boy, ada yang mau saya cerita tapi kau mau dengar ka? Please!” katanya sambil memohon.
“Cerita saja. Ada apa ka?”
“Tapi kau bisa jaga rahasia to? Karena hanya kau yang bisa saya percaya saat ini,” pipinya memerah. Terlintas senyum tipis di sana.
“Hmm... cerita saja. Kenapa malu-malu?”
“Saya selama ini dekat sama kak Reza. Tiap ke mana-mana selalu dia antar trus temani belanja. Tapi berasa kaya digantung ka,”
“Kenapa?” saya masih di posisi yang sama dan tetap mencoba untuk tenang. Tenggorokan memang mendadak kering tapi sengaja tidak saya seruput minuman di depan saya. Berusaha senatural mungkin.
“Maksudnya peka sedikit gitu. Kaya tida ada tanda-tanda kalo dia mau serius dengan saya. Padahal saya sudah berharap banyak sama dia.”
Cuaca siang ini semakin panaaas! Bangku yang saya duduki serasa seperti berduri. Curhatannya semakin panjang, saya hanya bisa beri masukan sesekali (seakan saya sudah pandai).
Oh Cinta! Tidak bisakah sesekali kau biarkan saya benar-benar terjatuh? Jangan biarkan saya terjebak terus!
No comments:
Post a Comment