Menjadi seorang lelaki memang sudah takdirnya untuk ‘mengejar’ atau lebih tepatnya memperjuangkan. Walaupun kurang paham dengan prinsip ini tapi mau tidak mau sebagai lelaki saya harus ikuti. Daripada dicap perjaka tua kan? Eh, tapi adakah yang namanya perjaka tua?
Sebagaimana seperti saat kita berburu atau mau memancing, tentu dilakukan persiapan yang matang.
Kalo berburu kita harus tau hewan apa yang mau kita tangkap, peralatan apa yang harus kita pakai, dan di mana kita temukan hewan itu. Memancing juga sama, beda jenis ikan beda pula kail dan umpan yang dipakai.
Begitu juga dengan gebetan. Tidak perlu lebay sambil berkoar-koar “30 hari mengejar gebetan” atau “kejarlah daku kau kulamar!”. Yang perlu kamu tahu dan kamu pastikan adalah bagaimana cara mendekati dirinya.
Berbekal analogi berburu dan sedikit wejangan itu saya coba dekati beberapa cewek di sekitar saya.
Salah satunya adalah (sebut saja) Mawar. Jadi ceritanya si Mawar ini kebetulan sekampus ama saya. Sering juga bertemu di kegiatan-kegitan kemahasiswaan, tapi tidak akrab satu sama lain.
Mau tahu Mawar itu seperti apa? Cewek cantik khas melanesia, tapi versi rambut lurus. Senyum manis dengan tahi lalat di pipi. Bodi berlekuk bak gitar Spanyol. Pokoknya kalau malam dia keluar rumah, saya membayangkan bintang-bintang di angkasa akan meredup. Malu akan kecantikan dan cahaya cinta yang dipancarkan matanya.
Perjuangan dimulai saat dapat nomor Whatsapp dari salah satu teman dan sengaja chat tentang kegiatan di kampus. Obrolan yang awalnya agak kaku akhirnya mencair sampai menjadi sutu kewajiban (eh, lebih tepatnya kebutuhan) tiap hari.
Pertemuan demi pertemuan mulai terjadi. Walau tak pernah kencan berdua tapi hati ini makin yakin dengan Mawar. Kemasan Beng-Beng yang kami makan bersama kemarin masih saya simpan rapi di kamar.
Sejauh ini memang saya belum juga nyatakan isi hati. Selain karena belum berani, belum juga ada momen yang pas buat itu. Akhirnya dengan kegagapan yang ada dan degub jantung tak terkontrol, saya coba ajak dia jalan-jalan atau nongkrong berdua. Yah, kencan kecil-kecilan sekalian cari celah buat nembak.
Ternyata dia tidak menolak, tapi dengan catatan harus siang sepulang kuliah karena malam dilarang keluar rumah. Akhirnya disepakati untuk bertemu di kafe pinggiran kampus hari Jumat sehabis salat Jumat.
***
Selesai salat Jumat, rambut saya sisir rapi, minyak wangi saya semprot ulang. Penampilan terbaik akan saya keluarkan siang ini, meski di puncak kepala matahari seakan membakar.
Siang itu dia sudah ada di sana. Celana panjang hitam dan switer putih yang sering dia pakai. Dia tersenyum dan melambaikan tangan saat melihat saya masuk.
Jujur saja, keringat dingin mengucur di sekujur tubuh. Percakapan antara kami sebenarnya berlangsung cukup tak seimbang. Saya hanya tertawa mengikuti iramanya saja. Sambil menikmati santap siang kami, sesekali saya coba melucu, meski itu kedengaran garing.
Tiba-tiba telpon genggamnya bergetar. Sambil mohon ijin, ia angkat telpon dan mulai berbicara dalam bahasa daerah yang tidak saya pahami sepatah kata pun. Tapi dari ekspresinya terlihat dia begitu serius. Dahinya mengerut.
Sesaat kemudian telpon ditutup tapi wajahnya masih juga tidak tenang.
“Maaf ya, Boy. Barusan suamiku telpon. Katanya anakku sakit dan sekarang sedang dibawa ke UGD. Saya harus nyusul sekarang,” katanya sambil memasukan telpon genggam ke dalam tas dan beranjak bangun.
“I-iya, tidak masalah. Moga anaknya cepat sembuh ya,” jawabku sambil menahan kaget.
No comments:
Post a Comment