Thursday, May 24, 2018

Ternyata Jatuh Cinta Itu Tidak Terjun Bebas


Obrolan dengan Melati siang itu membuat saya semakin bimbang. Melupakan dia yang kini dengan Kak Reza—walau gantung—atau tetap mendekati tanpa peduli hubungan mereka.


Sudah dua hari kami tidak lagi chatting. Memang masih ada rasa di dada—getaran yang tak bisa didefinisikan—dengannya.

Entah cuaca apa di hatinya sampai siang itu dia yang duluan chat di WhatsApp

‘Woii... di mana? Kenapa hilang?’

Sempat beberapa menit saya perhatikan saja tanpa saya balas. Antara bingun cari alasan atau memang saya menjadi bodoh di depan dia?

Akhirnya saya paksakan saja balas.

‘Oh, sorry sodari. Habis kuota’

Tidak sampai beberapa detik balasannya datang.

‘Dehh... perasaan kemarin online terus?’

WTF!!!! Sial!

Saya baru sadar kalo dari kemarin lupa setting WA biar tidak terlihat sedang online

‘Oh, kalo WA gratis. Tanpa kuota internet juga bisa’

‘Trus kenapa tidak chat (ada emot marah di sini-red)

Pertengkaran berat sebelah pun berlanjut dengan kemenangan Melati 1-0 saya. Tapi setelahnya saya jadi senyum-senyum sendiri. Apakah saya sudah menjadi bagian dari dirinya? Sampai-sampai tidak chat sehari saja dia kangen? Mungkin ini yang namanya cinta. Saya tekankan sekali lagi MUNGKIN.

Serangan demi serangan (gombal-red) saya lancarkan sejak saat itu. Karena di kepala terpikir, “Kak Reza boleh menabur, tapi saya harus bisa menuai.”

Sampai suatu ketika saya beranikan diri untuk ajak ketemuan. Kali ini memang murni ketemu tanpa harus numpang di kantin dengan alasan lapar atau kegiatan organisasi kemahasiswaan. Kalau belum bisa tembak jadi pacar, minimal mulai berusaha tampil lebih baik di depan dia—saya harus lebih baik dari Kak REZA!!!

Setelah negosiasi panjang akhirnya dia mau juga. Sabtu siang, abis kuliah tapi di kantin. Selain karena tidak punya waktu juga makanan di sana lebih murah.

***

Sabtu sing telah tiba. Setelah kuliah selesai, saya buru-buru ke kantin. Dia sudah ada di sana. Di tempat biasa kami duduk bersama, pojok belakang dekat dengan jendela. Baju coklat dan celana hitam. Tidak tau di mata orang lain dia bagaimana, siang itu dia begitu bercahaya. Rambut ikal, senyum tipis, matanya yang coklat dan kulit putih—bagai kertas HVS— seperti mahakarya Tuhan yang tidak bisa ditandingi. Syukur saja tidak ada bunga yang sedang mekar dekatnya, kalau ada mungkin saja sudah layu karena malu. Sayangnya di depan maha karya ciptaan Tuhan itu, saya keringat dingin. Sekalipun di luar sedang hujan.



Sengaja saya duduk di hadapannya—biar bisa lihat dengan jelas senyumnya. Aneka anekdot yang sempat singgah di kepala saya ceritakan. Semua ini hanya demi melihat dia tertawa atau paling tidak tersenyum. Sampai akhirnya tidak ada bahan obrolan lagi dan keceplosan.

”Bagaimana kau sama Kak Reza?”

Saya perhatikan ekspresinya. Dari tadi terlihat bahagia tiba-tiba langsung diam.

Untung saja pelayan datang di waktu yang tepat sehingga dia tidak perlu menjawab pertanyaan bodoh itu. Makanan kami disajikan dan obrolan harus berhenti sementara karena kami sama-sama lapar.

“Boy, kenapa kah kalo cowok gengsi sekali ungkapkan perasaannya?” tanyanya pelan.

“Hmm... Bagaimana ya? Saya masih terlalu polos kalo bicara cinta soalnya,” sengaja saya pasang ekspresi polos dan tidak paham apa-apa—walau memang begitu kenyataannya.

“Masa? Kau belum pernah pacaran?”
Bingung mau jawab apa terpaksa hanya ngangguk saja.

“Kalo PDKT pernah?”

Ya Tuhan, apakah ini yang namanya simulasi tes wawancara di dunia perkawinan?

“Ada. Mungkin belum jodoh saja. Katanya jodoh di tangan Tuhan. Mungkin Tuhan masih genggam jadi belum kelihatan wujudnya.”

“Kalau seandainya dia sudah ada di dekat kau. Tuhan sudah beri tanda-tanda tapi kau tidak sadar bagaimana?”

“Ah, kau ini. Tanya langsung saja begitu sama kak Reza,” saya masih berusaha biar tenang walau susah.

“Iihh... Kenapa sebut merek?”

“Ya sudah. Daripada galau mending dengan saya saja,”

Dia diam lalu tertawa kecil sambil cubit tangan saya.

No comments: